Budaya
Sorowako kaya dengan keberagaman budaya. Anda beruntung jika bisa menyaksikan beberapa atraksi seni dan budaya masyarakat Sorowako ini.
- Meopudi

Meopudi
Atraksi menangkap ikan opudi (Telmatherinidae) di Danau Matano dengan menggunakan daun kelapa. Satu kelompok biasanya terdiri dari lima-enam orang perempuan yang akan menggiring ikan-ikan opudi masuk dalam perangkap. Kekompokan tim, keseragaman gerakan dalam menghalau ikan-ikan opudi menjadi poin penilaian juri dalam menetapkan pemenang. Kegiatan ini biasanya diadakan setahun sekali pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia.
- Monsado
Pada masa lampau, tarian ini dilakukan untuk menyambut pemimpin perang beserta laskarnya sekembali dari medan perang.
Para penari, dengan posisi berjongkok, melambai-lambaikan tangan, tanda mereka sedang menunggu berita apakah para laskar menang atau kalah perang. Selanjutnya dari arah lain muncul dua atau empat lelaki yang kembali dari medan perang. Jika terdengar teriakan “Hi….hi…hi…”, berarti para laskar datang dengan membawa kemenangan. Sebaliknya, jika terdengar pekikan “Hu…hu…hu…”, pertanda mereka kalah perang dan membawa jenazah teman yang gugur. Sekarang ini, Tari Monsado lebih sering digelar untuk menyambut tamu-tamu istimewa dalam pesta budaya di Sorowako.
- Nohu Bangka

Nohu Bangka
Seni menumbuk di lesung dengan alu yang dimainkan oleh sekelompok orang untuk menghasilkan irama yang indah didengar.
- Padungku

Nasi Bambu yang sedang dibakar
Diadakan pada setiap akhir masa panen. Merupakanritual ungkapan syukur petani kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang telah didapat. Acara ini dipimpin oleh kepala desa dan beberapa tetua desa.
Pesta rakyat ini dilakukan tiap keluarga dengan menyediakan hidangan terbaik, berupa pewo atau nasi bambu. Hidangan tersebut diletakkan di tempat pemanggangan di setiap halaman rumah hingga menjelang pagi hari, kemudian dikumpulkan bersama di suatu tempat tertentu yang disepakati bersama. Nasi bambu tersebut akan disajikan bersama aneka hidangan daging.
Padungku menjadi simbol kebersamaan seluruh masyarakat. Dalam bahasa Sorowako disebut peasa roa. Dalam kesempatan ini semua handai-taulan dan kerabat jauh bersama para tetangga datang berkunjung. Usai makan bersama, biasanya dilanjutkan dengan pertandingan sepak bola antarkampung, lomba dayung, musik bambu, dan nohu bangka.
Pada malam hari, masih ada pesta yang tak kalah meriahnya, yaitu kesenian tradisional berupa tarian Malulo dan Madero. Tari yang melibatkan puluhan pasang muda-mudi ini biasanya dilakukan hingga pagi, diiringi alunan suara gendang, gong serta pantun. Bagi generasi masa sekarang, Madero dan Malulo banyak ditampilkan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya, diiringi lagu dan instrumen modern.
- Musik Bambu

Memainkan suling besar
Perpaduan suara dari seperangkat alat musik yang terbuat dari bambu mampu menghasilkan irama yang enak didengar. Untuk membentuk grup musik bambu yang ideal diperlukan pemain sebanyak 35 orang dengan komposisi: 7 peniup suling besar dan kecil, 28 peniup bass, dan pemukul gendang.
Musik bambu dikembangkan pertama kali pada 1917 oleh Ruru yang datang ke Desa Matano dalam tugasnya sebagai kepala sekolah. Berkat tangan terampil Ruru dan keluarganya berhasil menyulap bambu-bambu tipis yang banyak tumbuh liar di sekitarnya menjadi alat musik. Selanjutnya dari Desa Matano, musik bambu menyebar ke Sorowako. Dan hingga kini menjadi salah satu musik tradisional masyarakat setempat.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed